Anatomi fisiologi ovarium

Ovarium adalah salah satu organ sistem reproduksi wanita, sistem reproduksi terdiri dari ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina. Kedua ovarium terletak dikedua sisi uterus dalam rongga pelvis dengan panjang sekitar 1,5 – 2 inchi dan lebar  35 tahun 6.      Membawa mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 7.      Sindroma herediter kanker kolorektal nonpolipoid 8.      Ras kaucasia > Afrika-Amerika 9.      Dll (Andesa, Hesa, 2010)  D.    JENIS KANKER OVARIUM 1.      Tumor epitelial Tumor epitelial ovarium berkembang dari permukaan luar ovarium, pada umumnya jenis tumor yang berasal dari epitelial adalah jinak, karsinoma adalah tumor ganas dari epitelial ovarium (EOC’s : Epitelial ovarium carcinomas) merupakan jenis tumor yang paling sering ( 85 – 90% ) dan penyebab kematian terbesar dari jenis kanker ovarium. Gambaran tumor epitelial yang secara mikroskopis tidak jelas teridentifikasi sebagai kanker dinamakan sebagai tumor bordeline atau tumor yang berpotensi ganas (LMP tumor : Low Malignat Potential). Beberapa gambaran EOC dari pemeriksaan mikroskopis berupa serous, mucous, endometrioid dan sel jernih. (Andesa, Hesa, 2010) 2.      Tumor germinal Tumor sel germinal berasal dari sel yang menghasilkan ovum atau telur, umumnya tumor germinal adalah jinak meskipun beberapa menjadi ganas, bentuk keganasan sel germinal terutama adalah teratoma, dysgerminoma dan tumor sinus endodermal. Insiden keganasan tumor germinal terjadi pada usia muda kadang dibawah usia 20 tahun, sebelum era kombinasi kemoterapi harapan hidup satu tahun kanker ovarium germinal stadium dini hanya mencapai 10 – 19% sekarang ini 90 % pasien kanker ovarium germinal dapat disembuhkan dengan fertilitas dapat dipertahankan. (Andesa, Hesa, 2010) 3.      Tumor stromal Tumor ovarium stromal berasal dari jaringan penyokong ovarium yang memproduksi hormon estrogen dan progesteron, jenis tumor ini jarang ditemukan, bentuk yang didapat berupa tumor theca dan tumor sel sartoli-leydig termasuk kanker dengan derajat keganasan yang rendah. (Andesa, Hesa, 2010)  E.     STADIUM DAN DERAJAT KEGANASAN Klasifikasi stadium kanker ovarium berdasarkan FIGO (International Federation of Gyneklogi and Obstetric ) : Stadium I terbatas pada 1 / 2 ovarium I A Mengenal 1 ovarium, kapsul utuh, ascites (-) I B Mengenai 2 ovarium, kapsul utuh, ascites (-) I C Kriteria I A / I B disertai 1 > lebih keadaan sbb : 1.      Mengenai permukaan luar ovarium 2.      Kapsul ruptur 3.      Ascites (+)   Stadium II perluasan pada rongga pelvis II A Mengenai uterus / tuba fallopi / keduanya II B Mengenai organ pelvis lainnya II C Kriteria II A / II B disertai 1 / > keadaan sbb : 1.      Mengenai permukaan ovarium 2.      Kapsul ruptur 3.      Ascites (+) Stadium III kanker meluas mengenai organ pelvis dan intraperitoneal III A    Makroskopis : terbatas 1 / 2 ovarium             Mikroskopis : mengenai intraperitoneal III B    Makroskopis : mengenai intraperitoneal diameter  2 cm (Andesa, Hesa, 2010) Derajat keganasan kanker ovarium: 1.      Derajat 1 : differensiasi baik 2.      Derajat 2 : differensiasi sedang 3.      Derajat 3 : differensiasi buruk Dengan derajat differensiasi semakin rendah pertumbuhan dan prognosis akan lebih baik. (Andesa, Hesa, 2010)    F.     TANDA DAN GEJALA Kanker ovarium sulit terdeteksi, hanya sekitar 10 % dari kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal, keluhan biasanya nyeri daerah abdomen disertai keluhan–keluhan: 1.      Pembesaran abdomen akibat penumpukan cairan dalam rongga abdomen (ascites) 2.      Gangguan sistem gastrointestinal; konstipasi, mual, rasa penuh, hilangnya nafsu makan dll 3.      Gangguan sistem urinaria; inkontinensia uri 4.      Perasaan tidak nyaman pada rongga abdomen dan pelvis 5.      Menstruasi tidak teratur 6.      Lelah 7.      Keluarnya cairan abnormal pervaginam (vaginal discharge) 8.      Nyeri saat berhubungan seksual 9.      Penurunan berat badan 10.  Dll (Hira, Annea, 2011.) G.    DIAGNOSIS  Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya riwayat, pemeriksaan fisik ginekologi, serta pemeriksaan penunjang  1.      Riwayat  Kanker ovarium pada stadium dini tidak memberikan keluhan. Keluhan yang timbul berhubungan dengan peningkatan massa tumor, penyebaran tumor pada permukaan serosa dari kolon dan asites. Rasa tidak nyaman dan rasa penuh diperut, serta cepat merasa kenyang sering berhubungan dengan kanker ovarium. Gejala lain yang sering timbul adalah mudah lelah, perut membuncit, sering kencing dan nafas pendek akibat efusi pleura dan asites yang masif. (Wijaya, adi, 2010) Dalam melakukan anamnesis pada kasus tumor adneksa perlu diperhatikan umur penderita dan faktor risiko terjadinya kanker ovarium. Pada bayi yang baru lahir dapat ditemukan adanya kista fungsional yang kecil (kurang dari 1-2 cm) akibat pengaruh dari hormon klien. Kista ini mestinya menghilang setelah bayi berumur beberapa bulan. Apabila menetap akan terjadi peningkatan insiden tumor sel germinal ovarium dengan jenis yang tersering adalah kista dermoid dan disgerminoma. Dengan meningkatnya usia kemungkinan keganasan akan meningkat pula. Secara umum akan terjadi peningkatan risiko keganasan mencapai 13% pada premenopause dan 45% setelah menopause. Keganasan yang terjadi bisa bersifat primer dan bisa berupa metastasis dari uterus, payudara, dan traktus gastrointestinal. (Wijaya, adi, 2010) 2.      Pemeriksaan Fisik Ginekologi  Dengan melakukan pemeriksaan bimanual akan membantu dalam memperkirakan ukuran, lokasi, konsistensi dan mobilitas dari massa tumor. Pada pemeriksaan rektovaginal untuk mengevaluasi permukaan bagian posterior, ligamentum sakrouterina, parametrium, kavum Dauglas dan rektum. Adanya nodul di payudara perlu mendapat perhatian, mengingat tidak jarang ovarium merupakan tempat metastasis dari karsinoma payudara. (Wijaya, adi, 2010) Hasil yang sering didapatkan pada tumor ovarium adalah massa pada rongga pelvis. Tidak ada petunjuk pasti pada pemeriksaan fisik yang mampu membedakan tumor adneksa adalah jinak atau ganas, namun secara umum dianut bahwa tumor jinak cenderung kistik dengan permukaan licin, unilateral dan mudah digerakkan. Sedangkan tumor ganas akan memberikan gambaran massa yang padat, noduler, terfiksasi dan sering bilateral. Massa yang besar yang memenuhi rongga abdomen dan pelvis lebih mencerminkan tumor jinak atau keganasan derajat rendah. Adanya asites dan nodul pada cul-de-sac merupakan petunjuk adanya keganasan. (Wijaya, adi, 2010) 3.      Pemeriksaan Penunjang  Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang utama dalam menegakkan diagnosis suatu tumor adneksa ganas atau jinak. Pada keganasan akan memberikan gambaran dengan septa internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites . Walaupun ada pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT scan, MRI (magnetic resonance imaging), dan positron tomografi akan memberikan gambaran yang lebih mengesankan, namun pada penelitian tidak menunjukan tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dari ultrasonografi. (Wijaya, adi, 2010) Serum CA 125 saat ini merupakan petanda tumor yang paling sering digunakan dalam penapisan kanker ovarium jenis epitel, walaupun sering disertai keterbatasan. Perhatian telah pula diarahkan pada adanya petanda tumor untuk jenis sel germinal, antara lain alpha-fetoprotein (AFP), lactic acid dehidrogenase (LDH), human placental lactogen (hPL), plasental-like alkaline phosphatase (PLAP) dan human chorionic gonadotrophin(hCG). (Wijaya, adi, 2010) Tabel 2. Petanda tumor ganas sel germinal ovarium Histologi     AFP     hCG  Disgerminoma     –     ±  Yolk sac tumor     +     –  Teratoma imatur     ±     –  Mixed germ cell tumors     ±     ±  Korokarsinoma     –     +  Karsinoma embrional     ±     +  Poliembrioma     ±     +          Dikutif dari Hurteau Pengambilan cairan asites dengan parasintesis tidak dianjurkan pada penderita dengan asites yang disertai massa pelvis, karena dapat menyebabkan pecahnya dinding kista akibat bagian yang diduga asites ternyata kista yang memenuhi rongga perut. Pengeluaran cairan asites hanya dibenarkan apabila penderita mengeluh sesak akibat desakan pada diafragma. (Wijaya, adi, 2010)   H.    PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kanker ovarium terdiri atas: 1.      Operasi 2.      Radioterapi 3.      Kemoterapi Kanker Ovarium Epitelial : 1.      Stadium I Pilihan terapi stadium I dengan derajat diferensiasi baik sampai sedang, operasi salpingo-ooforektomi bilateral (operasi pengangkatan tuba fallopi dan ovarium) atau disertai histerektomi abdominal total (pengangkatan uterus) dan sebagian jaringan abdominal, harapan hidup selama 5 tahun mencapai 90%. (Hidayat, 2009) Pada stadium I dengan diferensiasi buruk atau stadium Ic pilihan terapi berupa: a.       Radioterapi b.      Kemoterapi sistemik c.       Histerektomi total abdominal dan radioterapi (Hidayat, 2009)   2.      Stadium II Pilihan terapi utama operasi disertai kemoterapi atau radioterapi, dengan terapi ajuvan memperpanjang waktu remisi dengan harapan hidup selama 5 tahun mendekati 80 %. (Hidayat, 2009) 3.      Stadium III dan IV Sedapat mungkin massa tumor dan daerah metastasis sekitarnya diangkat (sitoreduktif) berupa pengeluran asites, omentektomi, reseksi daerah permukaan peritoneal, dan usus, jika masih memungkinkan salpingo-ooforektomi bilateral dilanjutkan terapi ajuvan kemoterapi dan atau radioterapi. (Hidayat, 2009) Kanker Ovarium Germinal 1.      Disgerminoma Pengangkatan ovarium dan tuba fallopi dimana kanker ditemukan dilanjutkan radioterapi atau kemoterapi. (Hidayat, 2009) 2.      Tumor sel germinal lainnya Pengangkatan ovarium dan tuba fallopi dilanjutkan kemoterapi. (Hidayat, 2009) Kanker Ovarium Stromal Operasi yang dilanjutkan dengan kemoterapi. (Hidayat, 2009) Kombinasi standar sistemik kemoterapi berupa TP (paclitaxel + cisplatin atau carboplatin), CP (cyclophosphamide + cisplatin), CC (cyclophosphamide + carboplatin). (Hidayat, 2009) I.       MANAJEMEN KEBIDANAN Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian/ tahapan ang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien (varney 1997) Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang neberurutan, yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah-langkahnya adalah: 1.      Identifikasi data dasar : mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan 2.      Menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa/masalah aktual 3.      Mengidentifikasi diagnosa/ masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya 4.      Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta sistem rujukan berdasarkan kondisi pasien 5.      Menusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya (intervensi) 6.      Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman (implementasi) 7.      Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan.  7 langkah diatas merupakan langkah sistematis yang merupakan pola pikir. (Varney, 1997)  LANGKAH I. IDENTIFIKASI DATA DASAR Dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara: 1.      Anamnesa : biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biopsikosial, spiritual, pengeatahuan klien. 2.      Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan TTV. 3.      Pemeriksaan khusus : inspeksi, palpasi 4.      Peeriksaan penunjang : laboratorium, USG, sinar X, dan sebagainya. (Varney, 1997) Tahap ini merupakan langkah awal yang akan mennetukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar, sehingga dalam pendekatan ini harus komprehensif melalui data subjectif, objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi pasien yang sebenarnya dan valid. (Varney, 1997) LANGKAH II. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/ MASALAH AKTUAL Dilakukan ientifikasi terhadap diagnosa/ masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah diumpulkan. Data yang dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. (Varney, 1997)  LANGKAH III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/ MASALAH POTENSIAL Bidan mengidentifikasi diagnosa/ masalah potensial berdasarkan diagnosa/ masalah yang didentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosa/ masalah potensial ini menjadi benar-benar terjadi. (Varney, 1997)  LANGKAH IV. TINDAKAN EMERGENCY/ KOLABORASI/ KONSULTASI/ RUJUKAN Bidan atau dokter mengidentifikasi perlunya tindakan segera dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai kondisi klien. Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Beberapa data mungkin mengidentifikasikan situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu/ anak. Situasi lainnya bisa saja tidak merupakan kegawatdaruratan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lain. (Varney, 1997)  LANGKAH V. INTERVENSI/ RENCANA TINDAKAN Merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah/ diagnosa yang telah diidentifikasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa-apa yang sudah diidentifikasi dari ondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang telah diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk bila ada masalah psikologis. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan secara efektif. Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date.  (Varney, 1997)  LANGKAH VI. IMPLEMANTASI Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi leh klien atau anggota kesehatan lainnya. Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien. (Varney, 1997)  LANGKAH VII. EVALUASI Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan apaah benar-benar sudah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana yang telah diidentifikasikan dalam diagnosa dan masalah. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif dan sebagian belum efektif. Oleh karena itu perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang  tidak efektif melalui manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses manajemen tidak efektif. (Varney, 1997).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: